Pramuka dan Kemah Akhir Tahun

Hingga detik ini aku belum bisa memahami benar, untuk apa pramuka. Bukan..bukan itu maksudnya. Aku tidak membenci pramuka, aku tidak bermusuhan dengan pramuka dan aku tidak alergi ikut pramuka. Tapi entah kenapa, rasanya aneh saja melihat pramuka. Meski aneh nyatanya aku termasuk setia menjaga nama baik pramuka dan jajarannya. Baiklah, akan aku ungkap kesetiaanku pada pramuka. Satu, aku adalah ketua kelompok saat duduk dikelas 1 SMA (kalau tidak salah namanya Sangga). Dua, setelah naik kelas dua, aku ada digerombolan kelompok yg disebut dengan Dewan Ambalan (DA). Kurang setia apa coba? Bersama pramuka kuhabiskan waktu tiap jumatku. Setiaku sebanding dengan warna kulitku yang makin menghitam jika ikut baris berbaris dalam pramuka.

Kalau ada nilai rapot untuk DA, aku yakin pasti nilaiku paling akhir. Mungkin juga, akulah satu-satunya DA yang tidak bisa tali temali, sandi morse, semapoer atau bahkan mendirikan tenda dengan baik sesuai dengan rumusnya. Seingatku, aku bergabung ikut DA bukan karena keahlianku dalam kepramukaan. Aku diterima dalam jajaran DA karena tim DA yang masih sedikit dan aku adalah tim penggembira paling wahid. Dan tak lupa karena sedikit dibujuk rayu oleh senior kelas 3 (berarti dua tingkat diatasku). Entah kenapa juga dulu aku bisa menjadi ketua kelompok. Seingatku pula, kala itu pembagian kelompok dan pemilihan ketuanya cukup tidak adil.

Jadi begini ceritanya. Pertama kali ikut pramuka, semua berbaris rapi. Tanpa disuruh pasti akan berbaris dengan teman dekatnya atau tepatnya teman satu kelas. Oh…jangan lupa, dalam pramuka tidak kenal baur membaur, yang ada adalah kelompok laki-laki nun jauh disana. Setelah semuanya rapi berbaris dan seakan siap diberi bantuan sembakao maka ada pengumuman dari DA. Bahwa setiap kelas harus mewakilkan beberapa orang untuk maju didepan barisan. Sesuai perintah, semua wakil sudah ada. Tapi sang DA masih memerintah yang lain “kelas E masih kurang satu cewek yang maju”. Bikin ribet saja, banyak suara memintaku maju untuk melengkapi perintah itu. Jujur saja aku tidak tahu untuk apa ada perintah itu. Ah..ternyata perintahnya belum selesai. Perintah selanjutnya adalah “setiap orang yang berada dibelakang baris anak-anak yang maju ini harus memilih satu teman yang ada didepan dan harus diisi berbeda-beda kelas, tak boleh lebih dari 10 anak”.

Alamak, permainan apa pula ini. Tentu saja barisku akan kosong, karena aku maju terpaksa dan pastinya aku bukanlah orang terkenal. Secarak kami anak kelas satu baru 2 minggu masuk sekolah. Hapal satu kelas saja sudah syukur..lha ini satu sekolah. Dijamin orang setia akan memilihku adalah teman sebangkuku. Selang beberapa menit dan masih saja hiruk pikuk manusia mencari pilihannya ada perintah bahwa hitungan 10 harus sudah selesai. Kulihat banyak yang panic, sedangkan aku dan teman sebangkuku hanya ‘cengingas-cengigis’ melihat gaduhnya lapangan ini. DA yang sangat senior (karena kelas 3), menginformasikan bahwa aku, yang berada dibarisan paling tepi hampir tidak ada ruang karena saking kecilnya lapangan itu, masih butuh orang atau masih ada ruang untuk ditempati. Satu demi satu berada dibelakangku berdiri hingga genap 10 anak yang berbeda-beda kelas. Siapa mereka? Akupun tidak kenal, ada sih teman sekelas. Ada 2 anak lainnya entahlah. Makin ‘cengingas-cengigis’lah aku dan teman sebangkuku. Tanyaku pada teman sebangkuku “kenal mereka tidak?” jawabnya dengan matap ‘ora,blas ra kenal’. Barisan sudah sesuai perintah DA. Lengkap. Suara lantang sang ketua DA “orang yang berdiri didepan adalah Ketua Sangga dan yang berada dibelakang adalah anggotanya”. Hah????? Saat itu aku kaget dan bingung. Bukan karena tidak mau jadi ketua, tapi aneh saja. Aku manusia yang tidak hoby pramuka disuruh jadi ketua. Apa jadinya nanti kelompokku ini.

Satu tahun hampir berlalu, ketika kemah akhir tahun tiba. Seingatku, separah-parahnya kelompokku (karena terdiri dari manusia-manusia sisa atau yang tidak dikehendaki orang masuk dalam kelompoknya) dinobatkan sebagai kelompok terkompak.

Itu dulu…dulu banget.

Rasanya lama sekali tidak ikut pramuka dan melihat orang mengikuti prosesi pramuka. Hari ini, dihari sabtu tertanggal 22 juni 2013 kurasakan prosesi itu lagi. Geli dan lucu rasanya melihat anak-anak SMK ini mengikut pembukaan kemah akhir tahun. Kenapa harus lari ketika melapor, kenapa semua orang menjadi dipanggil kakak, kenapa Dasa Drama Pramuka dan Trisatya harus dihapal. Semakin lama aku berdiri dilapangan hijau ini semakin banyak pertanyaan kenapa. Tahu, aku tahu jawaban versiku. Ingin bertanya saja sebenarnya.

Aku berdiri disamping anak-anak yang sedang upacara pembukaan kemah sambil menunggu waktu. Sessi tentang sex education setelah upacara ini. Tak ada salahnya mengingat-ingat pramuka jamanku dulu.

Aku senang ikut kemah, aku senang hidup dialam bebas, aku senang berkumpul dengan banyak teman dan petualangan. Tapi aku tidak suka formalitas, sesi bentak-membentak, adanya rongga jauh antara junior dan senior. Apa ada aturan begitu ya, bahwa kemah akhir tahun adalah tempat dimana si senior punya kuasa atas juniornya?

Nikmati saja pramuka dan kemah ini, setidaknya bisa menjadi bahan cerita suatu saat nanti. Salam pramuka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>